Cambridge Analytica : Intelligence berkedok Konsultan Manajemen Kampanye Global

Faktapos.com – Jakarta, 25 Maret 2018.
Dilansir The Guardian, Selasa (13/3/2018), Cambridge Analytica didanai oleh konglomerat Robert Mercer, pendukung utama Donald Trump. Kemenangan  Trump banyak menuai kontroversial, mulai dari banyaknya hoax, post truth, rasialisme, pro-yahudi, sampai kebocoran data pribadi 50 juta pengguna Facebook.

Cambridge Analytica adalah perusahaan analisis data yang berperan dalam pemenangan Donald Trump, Presiden Kenya, hingga, diduga, perkara Brexit. Namun rekanan perusahaan Cambridge Analytica punya catatan kegagalan di Indonesia.

Cambridge Analytica punya perusahaan yang berafiliasi dengannya, yakni Strategic Communication Laboratories (SCL) Group. SCL menyebut dirinya sebagai agen manajemen kampanye global, didirikan oleh sosok bernama Nigel Oakes.

Apa yang dilakukan Oakes?

Media asal Inggris, Independent, menulis artikel berjudul ‘Si Mulut Manis Alumni Eton College Gagal Bikin Citra Pemimpin Indonesia Cemerlang’ pada 5 Agustus 2000. Di situ dijelaskan sepak terjang Oakes di Jakarta yang sempat berusaha menyelamatkan citra Presiden ke-4 RI: Abdurrahman Wahid.

Kantor pusat Behavioural Dynamics menjadi markas SCL yang digawangi Oakes. Kantor Behavioural Dynamics menjadi satu dari sekian tempat ajaib yang tersembunyi di Jakarta kala itu. Kantornya sangat luar biasa.

“Ini asyik dan seru, tapi juga sedikit berbahaya karena setiap yang kita lakukan sangat rahasia,” kata orang Indonesia yang dulu bekerja di ruang operasional, ruang itu disebut Jakarta International Research Media Center.

“Kami memanggilnya (Nigel Oakes) sebagai Mr Bond karena dia orang Inggris, dan karena dia misterius,” ujarnya.

Ada situs powerbase.info yang memuat keterangan tentang Oakes. Situs ini juga diulas media The Guardian dan The Observer dan dinilai memuat keterangan meragukan terkait Oakes. Namun situs ini menyajikan keterangan soal sepak terjak Oakes di Indonesia.

Nigel Oakes membantu mengatur citra Gus Dur yang sedang tak populer pada tahun 2000. Gus Dur, atau pihak Gus Dur, disebut mempekerjakan Nigel Oakes sebagai konsultan politik dengan dana US$ 2 juta untuk memperbaiki citra. Namun Oakes meninggalkan Indonesia dan menutup lapak di Jakarta setelah dua bulan bekerja untuk berkampanye di media. Dia dibayar tunai US$ 300 ribu oleh orang dalam Presiden.

Agensi Oakes di Jakarta memonitor media lokal dan internasional, membuat tayangan televisi yang menekankan kerukunan antarumat beragama dan antaretnis, membikin kegiatan atas nama jurnalis independen, mengadakan seminar etika dan independensi jurnalistik, namun tanpa sepengetahuan peserta bahwa acara ini didanai pihak Istana Kepresidenan.

Adalah The Wall Street Journal yang mengendus keberadaannya di Indonesia. Berita berjudul ‘Indonesia’s Wahid Hires Consultant to Help Boost His Tarnished Image’ terbit pada 2 Agustus 2000. Tak lama kemudian, yakni 4 Agustus 2000, terbit tulisan ‘Wahid’s Image Consultant Shuts Down Controversial Media Monitoring Center’. Sebelum Era Gus Dur, Oakes sudah berupaya masuk ke Indonesia tetapi gagal.

Salah seorang sumber Sekretariat Kepresidenan yang diwawancarai kala itu mengatakan tak terlalu paham kenapa pihak Gus Dur menyewa jasa Oakes, bisa jadi Gus Dur sendiri tak tahu soal ini.

“Saya enggak yakin apakah beliau tahu soal ini. Ini keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Mereka butuh beliau agar tetap di jabatannya,” kata sumber dari Sekretariat Kepresidenan itu.

Kantor Behaveoural Dynamics, SCL, atau ruangan operasional di Jakarta itu tutup. Oakes mengatakan kepada media Sunday Times soal alasan penutupan usahanya di Jakarta. “Alasan di balik penutupan ini adalah organisasi Kehumasan (PR) tak ingin tampil dalam pemberitaan. Anda tak ingin dikenal lebih ketimbang klien yang Anda tangani,” kata Oakes.

Eks Staf Gus Dur: Tak Ada Uang untuk Sewa Konsultan

Dikonfirmasi mengenai hal ini, Kepala Biro Protokol Istana di Era Gus Dur, Wahyu Muryadi menyangkalnya.

“Memang pasti banyak orang yang menawarkan jasa kepada presiden. Konsultan, pelobi, segala macem. Tapi setahuku, soal ini akan terbentur sendiri dengan kenyataan saat itu,” ujar Wahyu.

Kenyataan pertama, sambung Wahyu, adalah sosok Gus Dur yang tidak mementingkan pencitraan. Polesan citra menurutnya tidak diperlukan.

“Kedua, duitnya nggak ono. Kan konsultan asing itu perlu duit banyak. Ini nggak ada uangnya,” tutur Wahyu. (Ft/Dak).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *