Dampak Global Blunder Kebijakan Trump Blokade Minyak Iran

Faktapos.com – Teheran, 10 Juli 2018. Selama beberapa hari belakangan ini penutupan akses total terhadap ekspor minyak Iran menjadi isu sentral yang disorot berbagai pusat riset regional dan global, dan diprediksi akan menyulut lonjakan harga minyak di pasar global menjadi 150 dolar perbarel.

Presiden AS, Donald Trump mengancam akan menutup total akses Iran untuk menjual minyaknya hingga November mendatang. Ambisi tersebut dijalankan dengan mengambil langkah menggandeng Arab Saudi melalui percakapan via telpon dengan Raja Salman bin Abdul Aziz, hingga pengiriman delegasi AS ke Eropa dan Asia Timur supaya mereka tidak membeli minyak dari Iran.

Tapi pertanyaannya, apakah instruksi sepihak Trump untuk menghapus kontribusi produsen penting minyak dunia seperti Iran dari pasar global cukup realistis atau tidak? Lalu, apa dampaknya terhadap implementasi kebijakan ini terhadap perekonomian global?

Statemen tegas dan bermakna yang disampaikan Presiden Iran, Hassan Rouhani mengenai ambisi AS untuk menutup seluruh akses penjualan minyak Iran dengan baik menjawab masalah ini. Pasalnya, jalur yang ditempuh Presiden AS, Donald Trump untuk menjatuhkan sanksi minyak Iran tidak akan berjalan mulus. Sebab, publik dunia saat ini tidak bisa menjalankan politik intruksional Trump untuk mewujudkan kepentingannya dalam tatanan multilateralisme.

Presiden Iran, Hassan Rouhani dalam pertemuan dengan warga Iran yang berdomisili di Swiss pekan lalu mengatakan, “Pejabat AS mengklaim akan menutup akses total penjualan minyak Iran. Tapi mereka tidak tahu apa yang sedang disampaikannya. Sebab hal ini bermakna bahwa minyak Iran tidak bisa diekspor. Silahkan Jika kalian bisa melakukannya. Tapi lihatlah akibatnya nanti !”

Posisi strategis Iran, beraneka ragam produk minyak, dan lebih penting dari itu, kualitas minyak super berat Iran, yang menyebabkan Iran tetap menjadi incaran para pemain minyak dunia. Menutup total ekspor minyak Iran adalah kebijakan Trump dengan slogannya “Semua atau Tidak Sama Sekali” tidak lain dari penghinaan semata. Ilusi Trump ini tampak jelas dalam instruksi AS terhadap Arab Saudi,”Genjotlah produksimu, karena saya akan melindungimu dari sedikit uang yang kamu berikan, dan menjamin keamananmu,”.

Kalimat ini bermakna AS memerah susu dari Arab Saudi. Selain menunjukkan penghinaan Trump terhadap rezim Al Saud, Trump juga tidak bisa berbuat apa-apa melebihi  itu. Sebab, faktanya Arab Saudi tidak memiliki kemampuan untuk menebus kekurangan pasokan di pasar global akibat sanksi minyak AS terhadap Iran.

Arab Saudi tahun ini dengan susah payah bisa memproduksi minyak sebesar 11 juta barel perhari. Analis S&P Global, Jerry R. Rose mengatakan, produksi 11 juta barel perhari bermakna tekanan melebihi kemampuan terhadap struktur minyak Arab Saudi.

Bloomberg hari Minggu melaporkan, ketika sanksi terhadap Iran mulai dijalankan  sejak November, produsen minyak tidak memiliki kemampuan untuk menebus kekurangan akibat penurunan produksi minyak Iran.Jika Trump berupaya untuk menghentikan secara total ekspor minyak Iran, maka produsen minyak harus mengisi kekosongan sebesar 2,7 juta. Masalah besar ini tidak mudah untuk diisi.

Sanksi total minyak Iran bukan mimpi yang mudah bagi Trump. Bahkan, instruksi yang sedang dipaksakan terhadap Arab Saudi ini di luar kemampuan rezim Al Saud. Dampak destruktif dari blunder ini tidak hanya merugikan Iran, tapi juga negara-negara dunia. Faktanya, petualangan berbahaya Trump  menyulut gejolak di pasar global. Ambisi Trump mengeluarkan Iran dari roda produksi minyak dunia sama saja dengan menyulut krisis minyak dunia.(Fp/a)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *