Fatwa Baru Ulama Senior Saudi, “Perlu Perubahan Pakaian Wanita Saudi”?

Faktapos – RIYADH. 15 Februari 2018.
Ada perubahan-perubahan yang mulai bergerak di negara kaum Wahabi itu. Mulai dari modernisasi, daerah otonomi yang bebas bahkan boleh minum anggur dan berpakaian bebas, juga mulai ada fatwa-fatwa baru tentang pola pakaian wanita-wanita Saudi.

Seorang ulama senior Arab Saudimenyampaikan, perempuan Saudi tidak harus mengenakan abaya atau jubah longgar untuk menutupi tubuh mereka di depan umum.

Sheikh Abdullah al-Mutlaq, anggota majelis ulama Arab Saudi, mengatakan perempuan harus berpakaian sopan, namun tidak berarti mereka wajib mengenakan abaya.

Perempuan Saudi saat ini diharuskan mengenakan pakaian yang diatur secara ketat oleh aturan hukum di negara itu.

“Lebih dari 90 persen perempuan saleh di negara Muslim tidak mengenakan kain abaya. Jadi, kita seharusnya tidak memaksa warga kita untuk mengenakannya,” kata Sheikh Mutlaq, Jumat (9/2/2018).

Ini adalah pertama kalinya seorang ulama senior Arab Saudi membuat pernyataan semacam itu, yang mungkin dapat menjadi dasar hukum negara di masa depan.

Di Arab Saudi, perempuan yang tidak mengenakan abaya di tempat umum di mana mereka dapat terlihat oleh pria yang tidak memiliki hubungan keluarga dapat dikenai sanksi oleh polisi agama.

Dilaporkan Reuters, pada 2016, seorang perempuan Arab Saudi ditahan karena meninggalkan abayanya di sebuah jalan utama di ibu kota Riyadh.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, perempuan Arab Saudi telah mulai mengenakan abaya yang lebih bercorak dan tidak melulu berwarna hitam.

Mereka juga mulai mengenakan abaya yang dipadu dengan rok panjang atau celana jins. Seperti yang terlihat di sejumlah wilayah negara tersebut.

Pernyataan Sheikh Mutlaq itu sejalan dengan upaya modernisasi masyarakat Saudi, yang menjadi bagian rencana reformasi sosial yang dipelopori Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman.

Kebijakan ini bertujuan untuk memberikan lebih banyak kebebasan kepada perempuan Saudi yang menghadapi peraturan perbedaan gender yang ketat.

Upaya reformasi ini telah ditandai dengan pencabutan larangan mengendarai mobil bagi perempuan, serta diizinkan untuk berpartisipasi dalam perayaan Hari Nasional Arab Saudi untuk pertama kalinya.

Bulan lalu, perempuan Saudi juga mulai diizinkan untuk menonton sepakbola di stadion.

Tahun lalu, Arab Saudi juga mengumumkan bahwa bioskop-bioskop diizinkan untuk kembali dibuka, setelah dilarang lebih dari tiga dekade. Bioskop pertama diharapkan dibuka pada Maret tahun ini. (Fp/Int/Kompas/SA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *