Kampanyekan Toleransi di Solo Raya, LISAN Rekrut Generasi Muda

Faktapos – Surakarta, 15 April 2018.

Pada pertengahan Desember 2017, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memetakan Solo Raya sebagai salah satu basis gerakan radikal di Indonesia. Salah satu praktik gerakan radikalisme yang terus bereproduksi adalah ujaran kebencian terhadap kelompok lain yang diposisikan tidak segaris dengan pandangan satu kelompok.

Berbagai ujaran kebencian dan penyebarannya yang begitu masif terutama di kalangan anak muda muslim tentu mengundang keprihatinan bersama. Sebagai calon wajah Islam di masa mendatang, anak muda Islam mau tidak mau harus memiliki sifat dasar Islam yaitu bersikap santun dan tepo seliro atau toleran. Dua sikap yang mulai tergerus dari karakter anak muda Islam saat ini.

Menyikapi hal ini, Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKPPN) IAIN Surakarta dengan dukungan Wahid Foundation merancang program bernama Literasi Islam Santun dan Toleran (LISAN). Program ini bertujuan untuk mengkampanyekan nilai-nilai kesantunan dan toleransi di kalangan anak muda Islam di wilayah Solo Raya. Sasaran terhadap generasi milenial ini dianggap penting dan mendesak karena mereka adalah wajah Islam di masa depan. Program ini akan merekrut anak muda Islam di wilayah Solo Raya menjadi duta LISAN.

“Duta LISAN ini memiliki tantangan untuk mengkampanyekan Islam santun dan toleran di berbagai ajang mulai sekolah hingga di acara car free day di wilayah Solo Raya. Kita akan menemani mereka untuk menunjukkan wajah Islam yang harmoni dan cinta damai,” ujar M. Endy Saputro, Dosen IAIN Surakarta sekaligus Manajer Program LISAN.

Program LISAN yang akan diluncurkan pada, Selasa (17/4) di Graha IAIN Surakarta ini akan dihadiri oleh H. Abdurrahman Mas’ud (Kepala Balitbang Kementerian Agama RI), H. Mudhofir (Rektor IAIN Surakarta) dan K.H Dian Nafi (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta).

Launching LISAN ini akan diwarnai dengan Public lecture (Kuliah Umum) dengan tema Pesantren, Perguruan Tinggi Islam dan Tantangan Generasi Milenial dan diskusi kelompok terbatas dengan beberapa tokoh agama dan masyarakat yang secara khusus mendiskusikan draft (rancangan) buku saku yang akan menjadi pegangan para duta LISAN.

Ditambahkan oleh Direktur Pusat Kajian dan Pengembangan Pesantren Nusantara (PKPPN) IAIN Surakarta, M. Zainal Anwar, kedepan kegiatan ini diharapkan mampu lebih merekatkan antara perguruan tinggi Islam dengan pondok pesantren. Jika kedua institusi ini bergandengan tangan lanjutnya, maka berbagai persoalan kemasyarakatan seperti ancaman radikalisasi bisa ditekan serendah mungkin

Pada masa mendatang juga harapnya, program LISAN mampu memberikan kontribusi pada pemahaman anak muda Islam di Solo raya tentang pentingnya gerakan toleran yang dilakukan secara bersama-sama yang diwujudkan dengan memproduksi berbagai media yang berisi tentang ajakan menjadi santun dan toleran sehingga mampu menjadikan Solo sebagai City of Harmony (Kota penuh kedamaian). (HMB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *