Kapolrestabes Surabaya Himbau Mahasiswa Ikut Perangi Radikalisme

Faktapos – Surabaya, 14 April 2018

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan mengajak mahasiswa bersama-sama menangkal radikalisme, terorisme dan ekstrimisme agama yang masuk ke kampus demi menjaga keutuhan NKRI.

“Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan hanya milik satu golongan saja. Bukan milik satu suku, agama, tapi milik dari Sabang sampai Merauke ini yang harus benar-benar ditanamkan. Bahwa Indonesia terdiri dari beberapa pulau, suku dan agama itu lha kita,” kata Rudi Setiawan saat kajian rutin di Kampus Unusa Surabaya, Jumat (13/4/2018).

Rudi mengaku jangan sampai ada lagi pemahaman bahwa Indonesia adalah negara Islam. Sebab Indonesia memiliki banyak suku, agama yang berbeda tersebar mulai Sabang sampai Merauke.

“Orang-orang Manado, orang-orang Bali mau kemana, orang-orang di Bali mau lari kemana dan orang-orang kristen di Aceh mau kemana, bisa dibayangkan bisa dibayangkan kalau kita tidak memiliki konsep dari Sabang sampai Merauke, Bhinneka Tunggal Ika,” kata Rudi.

Dalam diskusi di kampus Unusa, Rudi mengaku bahwa kegiatan ekstrem beragama itu adalah kegiatan yang tidak dibenarkan. Sebab kegiatan tersebut akan menimbulkan paham terorisme dan radikalisme.

“Kegiatan itu tidak boleh dikembangkan. Jadi harus dilawan, sehingga radikalisme dan terorisme di Surabaya tidak ada lagi,” ujar Rudi.

Dia menambahkan untuk mempelajari ilmu agama harusnya mencari guru yang tepat. Bukan pada sumber-sumber, jangan menimbulkan paham ekstrem dan radikalisme terutama yang masuk di kampus-kampus.

“Saya berharap dengan materi saya sampaikan bisa mencegah paham teroriseme dan radikal masuk di kampus. Tidak hanya di Surabaya, di kampus mana saya harap juga begitu. Dan saya yakin mereka sepakat untuk mengirimkan pesan damai dari Surabaya untuk Indonesia,” tegasnya.

Rudi juga menegaskan bahwa ekstrem agama itu bukan domaiannya agama Islam saja, melainkan semua agama memiliki potensi.

“Sejatinya semua agama mengajarkan cinta damai. Tapi salah pemahaman dari pemeluknya yang belajar dari sumber yang salah,” ungkapnya.(HMB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *