Liga Arab Bersama AS dan Israel Kompak “Menyerang” Iran

Faktapos.com, – 10 Maret 2018

Teheran, Juru bicara kementerian luar negeri Republik Islam Iran menyebut pernyataan Liga Arab tentang klaim intevensi Iran di Yaman dan keraguan dalam melaksanakan perjanjian nuklir JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif) sebagai pernyataan yang sepenuhnya tidak bernilai dan tidak memiliki dasar hukum.

Bahram Ghasemi mengungkapkan hal itu dalam statemennya pada hari Kamis, (8/3 /2018) ketika mereaksi pernyataan Komite Kuartet Liga Arab (Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain dan Mesir) dan tudingan tidak berdasar komite tersebut terhadap Iran. Pernyataan itu juga untuk merespon intervensi tidak pada tempatnya mengenai komitmen Iran terhadap isi JCPOA.

Ghasemi mengatakan bahwa keempat negara tersebut lebih baik mengakhiri proyeksi dan peran destruktifnya di kawasan serta menghentikan “tarian politik” yang dilakukan hanya untuk menyenangkan rezim Zionis Israel. Ia menjelaskan bahwa kebijakan Iranophobia adalah kebijakan gagal dan Iran selama ini memainkan peran konstruktif dalam kerangka stabilitas dan keamanan regional.

Pernyataan anti-Iran yang dikeluarkan Liga Arab di bawah pengaruh dan tekanan Arab Saudi menunjukkan sebuah indikasi dari pendekatan konflik Riyadh terhadap kawasan ketimbang interaksi dan dialog untuk menyelesaikan krisis regional.

Arab Saudi menggunakan berbagai lembaga dan pertemuan untuk memperluas proyek Iranophobia yang sejalan dengan kebijakan Amerika Serikat dan rezim Zionis, di mana kebijakan segitiga ini telah membahayakan stabilitas dan keamanan di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Perdana Menteri rezim Zionis Benjamin Netanyahu dalam pernyataan di Washington mengklaim bahwa JCPOA adalah sebuah kesepakatan yang buruk dan harus dibatalkan atau diubah.

Dalam situasi seperti itu, posisi dan pernyataan Liga Arab yang anti-JCPOA merupakan sebuah kebijakan yang hanya untuk melayani sebuah rezim yang memiliki ratusan hulu ledak nuklir dan menjadi ancaman serius bagi keamanan regional dan dunia.

Bersamaan dengan upaya untuk menciptakan keraguan dan tanda tanya tentang kehadiran dan peran efektif Iran di kawasan, “segitiga buruk” (AS, Israel dan Arab Saudi) berusaha mempeluas kebijakan Iranophobia dengan menekan negara-negara di kawasan agar kebijakannya sejalan dengan mereka.

Pada dasarnya, segitiga tersebut yang harus bertanggung jawab atas agresi, kerusakan dan tragedi kemanusiaan di Yaman serta meluasnya terorisme dan ekstremisme di kawasan. Pasalnya, mereka adalah pelaku dari serangan ke Yaman dan pencipta kekacauan di Timur Tengah. Kebijakan AS, Israel dan Arab Saudi untuk merusak citra Iran dan menggambarkan buruk tentang peran negara ini di kawasan merupakan upaya untuk menutupi kegagalan-kegagalan mereka di Suriah dan Yaman.

Tidak diragukan lagi, peran konstruktif Iran untuk menciptakan stabilitas dan keamanan permanen di kawasan Timur Tengah telah menyebakan hancurnya kelompok teroris takfiri Daesh (ISIS) di Irak dan Suriah. Kebijakan efektif Iran ini juga telah menghancurkan semua rencana jahat AS, rezim Zionis dan sekutunya, sehingga menimbulkan kemarahan besar bagi mereka.

Segitiga buruk tersebut berusaha membagi pekerjaan mereka di setiap momen untuk mempengaruhi kebijakan konstruktif Iran yang melayani perdamaian dan keamanan regional. Mereka selalu berusaha mengkambinghitamkan Iran, padahal negara-negara itu menjadi sumber dari ketidakamanan dan instabilitas di kawasan.

Menteri Luar Negeri Qatar, Muhammed bin Abdurahman bin Jassem Al Thani dalam pernyataannya di Brussels pada hari Kamis, mengkritik kebijakan Arab Saudi di kawasan. Ia mengatakan, Arab Saudi dengan konspirasinya sedang merusak stabilitas regional.

Arab Saudi menuduh Iran mengirim senjata ke Yaman ketika negara itu bersama koalisinya memblokade penuh negara tetangganya ini dari darat, laut dan udara. Mereka juga melanjutkan serangan militer ke Yaman dengan senjata dari Perancis, Inggris dan AS, dan bahkan mengubah Yaman menjadi tempat pameran kejahatan perang dan kejahatan anti-kemanusiaan.

Kunjungan kontroversial Putra Mahkota Arab Saudi Mohammad bin Salman ke London baru-baru ini dan kecaman terhadap lawatan yang menyebabkan kelanjutan tragedi kemanusiaan di Yaman ini menunjukkan fakta dari kebijakan Riyadh di kawasan. Arab Saudi menabuh genderang Iranophobia di berbagai kesempatan, namun langkah ini tidak akan dapat menciptakan margin politik yang aman bagi negara itu. Pemboman brutal Arab Saudi di Yaman, di mana hingga sekarang kebrutalan dan kekejamannya belum terlihat sepenuhnya oleh dunia telah menunjukkan wajah sebenarnya dari pemerintahan kerajaan tersebut. (fp/a/press/pars)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *