Respon Ejekan Trump, MBS: Hubungan Arab Saudi – AS Sangat Istimewa

Faktapos.com – Riyadh, 6 Oktoer 2018.Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman (MBS) mengatakan Riyadh telah memenuhi permintaan Trump untuk menutupi kekurangan pasokan minyak akibat sanksi Iran.

“Saya suka bekerja dengan Trump. Saya sangat suka bekerja dengan dia dan kami telah mencapai banyak hal di Timur Tengah,” kata MBS dalam wawancara dengan surat kabar Bloomberg, Jumat (5/10/2018).

Esensi hubungan Washington dengan Riyadh terbilang istimewa, karena Kerajaan Saudi sangat bergantung pada pemerintah AS dan juga mengeluarkan biaya besar untuk ketergantungan itu, tetapi Washington justru memandang rendah Riyadh.

Presiden Donald Trump dalam kampanye pemilu baru-baru ini di Mississippi mengatakan, Saudi dan Rajanya tidak akan bertahan lebih dari dua minggu tanpa bantuan militer AS.

Pernyataan ini dipandang oleh banyak pihak sebagai penghinaan terang-terangan Trump terhadap Arab Saudi.

Ketika diminta oleh wartawan Bloomberg untuk mengomentari penghinaan itu, MBS menuturkan, “Anda harus menerima bahwa setiap teman akan mengatakan hal-hal baik dan hal-hal buruk. Saya sangat suka bekerja dengan Trump.”

Statemen MBS sama saja dengan menempatkan Saudi pada posisi lemah di wilayah Timur Tengah dan menerima penghinaan politik yang dilakukan presiden AS.

Dia juga mengakui telah memenuhi permintaan Trump untuk menutupi kekurangan pasokan minyak. “Permintaan AS ke Arab Saudi dan negara-negara OPEC lainnya adalah untuk memastikan bahwa jika ada kehilangan pasokan dari Iran, kami akan menutupi itu dan itu terjadi,” ujarnya.

Jelas bahwa pemerintah Saudi memiliki permusuhan dengan Republik Islam Iran. Demi mengimbangi rivalitasnya dengan Tehran, Riyadh bahkan tidak masalah jika harus menerima penghinaan dari Washington. Saudi ingin memastikan dukungan AS dalam melawan Iran.

Pencetus teori Threat balance, Stephen Walt percaya bahwa sebuah pemerintah akan mengikuti kekuatan besar jika tidak memiliki kemampuan untuk mengimbangi kekuatan yang mengancam dan juga tidak ada peluang untuk menggalang aliansi. Pada dasarnya, negara lemah akan mengadopsi strategi untuk mengikuti kekuatan lain.

Namun, strategi itu dijalankan oleh Riyadh ketika Tehran selalu menekankan interaksi yang positif dengan para tetangganya termasuk Arab Saudi, dan Iran tidak pernah bersekutu dengan kekuatan asing untuk melawan tetangganya.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif dalam sebuah pesan di akun Twitter-nya menulis, “Presiden Trump berulang kali menghina Arab Saudi dengan mengatakan mereka tidak bisa bertahan dua minggu tanpa dukungannya. Ini adalah ilusi jika ingin menjamin keamanan dari luar. Kami kembali mengulurkan tangan kami kepada tetangga kami: mari kita membangun wilayah yang kuat dan hentikan kesombongan kekuatan arogan ini.” (Fp/a)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *