Siaga Hadapi Suriah, Israel Kerahkan Sistem Anti Rudal Ke Perbatasan

Faktapos.com, – 13 Februari 2018

Tel Aviv, Penyerangan yang dilaporkan terjadi pada F-16 Israel di Suriah pada 10 Februari telah mengurangi dominasi udara jangka panjang negara tersebut di wilayah tersebut. Dikarenakan peristiwa itu menyebabkan pesawat pertama Israel yang hilang dalam 35 tahun, sejak 1982 – saat perang Israel di Lebanon.

Pasca Insiden Memalukan tersebut, Militer Israel telah mengerahkan sistem anti-rudal, serta “baterai pertahanan rudal” di perbatasan negara bagian utara dengan Suriah, di dekat kota Baka al-Gharbiya, surat kabar Jerusalem Post melaporkan pada hari Senin, mengutip saksi mata.

Seperti yang ditunjukkan oleh media, beberapa saksi membeberkan foto “truk yang membawa baterai  pertahanan rudal di jalan raya tengah di Israel utara.”

Menurut surat kabar tersebut, pada awal hari Sabtu Israel juga mengerahkan delapan pesawat tempur untuk menargetkan posisi di Suriah. Namun, militer Israel belum mengomentari laporan media.

Jatuhnya Pesawat F-16 Israel

Penyebaran sistem anti rudal dilakukan Israel sebagai respon atas insiden 10 Februari ketika pesawat F-16 negara tersebut, dicegat oleh pesawat tanpa awak Iran yang diluncurkan dari Suriah, seperti yang diklaim oleh Tel Aviv.  Serangan tersebut telah mengakhiri keunggulan udara Israel, karena itu adalah pesawat pertama di negara itu yang hilang sejak perang Israel dengan Lebanon pada tahun 1982.

 

Serangan Israel memicu tembakan balasan dari pertahanan udara Suriah. Pada gilirannya, militer Israel memulai gelombang kedua serangan tersebut, yang mengakibatkan terjadi 12 sasaran di Suriah, menurut Pasukan Pertahanan negara (IDF).

Sebagai Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel Brig. Jenderal Tomer Bar menyatakan pada hari Sabtu, operasi militer oleh angkatan udara negara tersebut terhadap Suriah pada hari Sabtu adalah tindakan “yang paling signifikan” terhadap pertahanan udara Suriah tetangga selama 36 tahun terakhir.

Mengomentari dugaan penyadapan F-16 Israel di Suriah, kepala keamanan Iran Ali Shamkhani menyebutnya konyol, menambahkan bahwa pasukannya beroperasi di Suriah atas permintaan pemerintah sah negara tersebut. Seperti yang Teheran jelaskan, negara ini mempertahankan “penasehat, bukan kehadiran militer” di Suriah.

Pejabat tersebut menyatakan bahwa kali ini bangsa Suriah telah membuktikan bahwa pihaknya akan menanggapi setiap tindakan agresi.(sput/fp/int/a)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *