Tidak Ada Jaminan Keamanan dari PBB, Ansarullah Yaman Batal Ikuti Perundingan Damai di Jenewa

Faktapos.com – Sanaa, 7 September 2018. Kelompok pejuang Ansarullah (Houthi) menyatakan tidak dapat meninggalkan Sanaa, ibu kota Yaman, untuk berpartisipasi dalam perundingan damai yang dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss, mulai hari ini, Kamis (6/9/2018), dengan alasan tidak tersedianya pesawat serta jaminan delegasi Ansarullah dapat kembali ke Sanaa.

Dalam statemennya yang dilansir saluran TV al-Masirah milik Ansarullah melalui akun Twitter-nya, Rabu (5/9/2018), kelompok yang didukung Iran ini menyatakan, “PBB tidak sanggup mendapatkan izin dari negara-negara musuh untuk penyediaan pesawat Oman guna membawa utusan serta para korban luka dan orang-orang terlantar.”

Pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menerapkan pembatasan ekstra ketat untuk Bandara Sanaa yang dikuasai Ansarullah dengan hanya membolehkan pendaratan dan penerbangan pesawat-pesawat PBB dan lembaga-lembaga kemanusiaan.

Ansarullah tidak menyebutkan siapa dan berapa jumlah korban luka dan orang terlantar yang hendak disertakan dengan para delegasi dalam pesawat, dan ke negara mana mereka akan dibawa. Kelompok pimpinan Abdel Malik al-Houthi ini juga menyatakan tidak ada jaminan delegasinya akan dapat kembali ke Sanaa segera setelah perundingan.

“Sama sekali tidak ada jaminan untuk kembalinya delegasi nasional usai perundingan Jenewa,” ungkap Ansarallah sembari mengingatkan bahwa pada tahun 2016 delegasinya pernah terlantar di Kerajaan Oman selama tiga bulan setelah perundingan damai di Kuwait.

Di pihak lain, juru bicara pasukan koalisi pimpinan Saudi enggan berkomentar tentang ini saat ditanya oleh kantor berita Perancis, AFP.

PBB rencananya akan memulai perundingan baru antarkelompok yang bertikai di Yaman pada hari ini untuk mengupayakan tercapainya kesefahaman mengenai kerangka perundingan menyudahi perang.

Ansarullah menguasai Sanaa dan beberapa kawasan lain sejak September 2014, sementara pasukan loyalis mantan presiden Yaman Abd Rabbuh Mansour Hadi berusaha merebut kembali berbagai wilayah Yaman yang lepas dari tangan mereka dengan dukungan pasukan koalisi yang dipimpin Saudi sejak Maret 2015.(Fp/a)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *